(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Biodiversity Heritage Library | Children's Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "ebook tauhid dan jihad_1"


Berpartisipasi & Mendukung 

Jihad 



oleh: 

'11 A 





www.anwar-aiawiaKi.com 



Pagel of28 



"Jihad dewasa ini hukumnya adaiah Fardiu 'Ain atas setiap musiim yang 

mampu. Maka, siapa saja yang hendak meraih ridla Allah, wajib berusaha 

mencari jalan untuk menunaikan kewajiban (taridlah) ini dan 

mendukungnya. " 




Februari 2009 / Rabiul Awwal 1430 



Page2of28 



1 . Berniat secara jujur dan ikhlash 

2. Berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mendapat syahadah 

3. Jihad dengan harta 

4. Pencarian dana untuk Mujahidin (Fundraising) 

5. Membiayai seorang Mujahid 

6. Menjaga dan memelihara keluarga Mujahid 

7. Menanggung keluarga para Syuhada 

8. Menanggung keluarga para Mujahid yang dipenjara 

9. Membayar zakat kepada Mujahidin 

10. Kontribusi dalam memenuhi kebutuhan medis dan pengobatan Mujahidin 

1 1 . Memberikan dukungan moral dan dorongan semangat 

12. Melindungi Mujahidin dan bangkit membela mereka 

13. Melawan kebohongan media barat 

14. Membongkar kebusukan Kaum Munafiq 

15. Mendorong orang lain untuk berjihad 

16. Melindungi Mujahidin dan menjaga rahasia mereka (Wa'yul Amni) 

17. Berdoa untuk Mujahidin 

18. Mengikuti berita tentang Jihad dan menyebarkannya 

19. Menyebarkan artikel tentang Mujahidin dan karya ilmiah para Ulama mereka 

20. Menerbitkan dan menyebarkan tatwa untuk mendukung Mujahidin 

21. Menyampaikan intormasi dan berbagai perkembangan Jihad dan Mujahidin kepada para 
Ulama dan Imam 

22. Melatih kebugaran tisik 

23. Berlatih senjata 

24. Keterampilan medis dan P3K 

25. Mempelajari Fiqh Jihad 

26. Melindungi Mujahidin dan membantu mereka 

27. Membangun aqidah Al Walaa' wal Baraa' 

28. Menunaikan tanggung jawab kita terhadap para tawanan muslim 

29. www Jihad (Jihad internet) 

30. Mendidik dan membesarkan anak-anak kita untuk mencintai Jihad dan Mujahidin 

31 . Menghindari hidup mewah 

32. Mempelajari keahlian yang dapat bermantaat bagi Mujahid 

33. Bergabung dengan Jamaah/Kelompok yang bekerja untuk Jihad 

34. Persiapan spiritual 

35. Menuntun Ummat kepada Ulama yang lurus dan jujur 

36. Mempersiapkan diri untuk berhijrah 

37. Menyampaikan nasehat kepada Mujahidin 

38. Mempelajari hadits tentang Fitan 

39. Menyingkap kebusukan tiraun dan para tukang sihir pendukungnya 

40. Nasyid 

41. Boikot perekonomian musuh 

42. Mempelajari Bahasa Arab 

43. Menerjemahkan literatur Jihad ke dalam bahasa lain 

44. Mengajarkan ummat tentang karakteristik At-Thaifah Al-Manshurah 



Page3of28 



44 Cara Berpartisipasi dan Mendukung Jihad 
oleh Sheikh Anwar Al-Awlaki 

sumber : www.anwar-alawlaki.com 

Artikel ini ditulis berdasarkan artikel "39 ways to serve and participate in Jihad" by 
Muhammad bin Ahmad As-Salim (Sheikh Isa Al Awshin) 1 9/5/1 424H dan 
disesuaikan dengan perkembangan dan relevansi dewasa ini. 

Jihad adalah amal (perbuatan) tertinggi dalam Islam, dan jalan keluar bagi 
permasalahan ummat adalah dengan menunaikan Jihad. Pada saat sekarang 
ini, ketika berbagai tanah Islam dijajah oleh orang kafir, ketika penjara kuffar 
dan thowaghit dipenuhi oleh para tawanan muslim, ketika hukum Allah tidak 
tegak di atas bentang kehidupan dunia, dan ketika Islam dikepung dari 
seluruh penjuru untuk dimusnahkan, Jihad hukumnya fardlu 'ain, kewajiban 
atas setiap pribadi muslim. Jihad harus ditunaikan oleh seorang anak 
meskipun orang tuanya melarangnya, Jihad harus ditunaikan seorang isteri 
meskipun suaminya melarang, dan Jihad harus ditunaikan oleh seorang yang 
berhutang meskipun yang memberi hutang menghalanginya karena takut 
hutangnya tidak terbayar. 

Saudara Saudariku, isu (Jihad) ini semakin penting untuk diangkat karena hari 
ini musuh kuffar yang kita hadapi bukan lagi berbentuk satu bangsa atau satu 
ras. Tetapi ia adalah sistem kekufuran global yang merambah seluruh dunia. 
Kaum kuffar hari ini berkonspirasi untuk memerangi kita, yang belum pernah 
kita saksikan sebelumnya sepanjang sejarah Islam. Jadi, akankah kita siap 
untuk menghadapi peperangan besar antara bala tentara Romawi melawan 
Ummat Islam, - Al Malhamah - sebagaimana yang telah dikabarkan 
Rasulullah SAW? 

Catatan editor: Yang dimaksud dengan bala tentara Romawi adalah 
keturunannya hingga saat ini, yaitu bangsa barat (Eropa, Amerika dan 
perluasannya seperti Australia, Kanada, NewZealand). 

Kembali ingin saya tekankan : Jihad dewasa ini hukumnya adalah Fardlu 'Ain 
atas setiap muslim yang mampu. Maka, siapa saja yang hendak meraih ridla 
Allah, wajib berusaha mencari jalan untuk menunaikan kewajiban (taridlah) ini 
dan mendukungnya. Berikut saya persembahkan kepada Ikhwah fillah semua, 
44 Cara Berpartisipasi dan Mendukung Jihad Fi Sabilillah : 

1. Berniat secara jujur dan ikhlash 

Engkau harus senantiasa menguatkan niat dan tekad untuk dapat bergabung 
dengan barisan Mujahidin. Rasulullah SAW bersabda : "Siapa yang tidak 
pernah berperang (fi sabilillah) dan tidak pernah berniat berperang, maka ia 
mati di atas cabang dari cabang-cabang kemunafiqan". (Riwayat Muslim) 

Dan tanda dari niat yang jujur adalah kesungguhan dan melakukan persiapan 
diri untuk menerjuni Jihad. Allah SWT berfirman : "Seandainya mereka benar- 



Page4of28 



benar berniat untuk berangkat (berjihad), tentu mereka mempersiapkan 
dirinya". (QS At-Tawbah 46) 

Syarat dari Jihad Difaa' (Jihad Defensif) ada 5 sebagaimana ditetapkan oleh 
Ulama seperti Abu Oudamah Al-Hanbali yaitu: Islam, baligh, berakal, memiliki 
bekal tinansial, dan sehat dari ketidakmampuan fisik. Jika seseorang tidak 
punya bekal tinansial dan tidak dapat menemukan orang yang dapat 
membiayainya berjihad, atau ia memiliki kendala fisik (sakit berat atau 
berkepanjangan atau cacat), atau berbagai kendala lain yang membuatnya 
tidak dapat menunaikan Jihad, maka salah satu tanda dari niat yang jujur dan 
sungguh-sungguh adalah ia merasa sangat bersedih karena tidak dapat 
menunaikan Jihad. Allah SWT bertirman tentang orang-orang yang tidak 
dapat mengusahakan perbekalan dan perlengkapan untuk berangkat berjihad 
dalam Perang Tabuk : "Dan tiada (dosa) atas orang-orang yang datang 
kepadamu (Muhammad) supaya engkau mengusahakan mereka kendaraan 
untuk membawa mereka (berjihad), lalu engkau berkata, "Aku tidak dapat 
mengusahakan kendaraan untuk kalian". Mereka kembali sedang mata 
mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak dapat 
memperoleh apa yang dapat dinatkahkan (untuk berjihad)". (QS At-Tawbah 
92) 

2. Berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mendapat syahadah 

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang sungguh-sungguh dan tulus meminta 
syahadah kepada Allah, maka niscaya akan Dia anugerahkan pahala 
syuhada meski ia meninggal dunia di atas tempat tidur". (Diriwayatkan oleh 
Muslim) 

Meminta dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk mati syahid membuat 
Allah ridla, karena hal itu menunjukkan bahwa engkau bersungguh-sungguh 
untuk menyerahkan hidupmu untuk-Nya. Tetapi berhati-hatilah, agar jangan 
engkau hanya mengucapkan harapan sekedar di bibir saja (lip service). 
Seseorang yang betul-betul sungguh-sungguh dan jujur meminta mati syahid 
akan cepat merespon setiap seruan Jihad kapan saja ia mendengarnya, dan 
ia senantiasa mencari cara apa saja yang dapat menghantarkannya menuju 
mati syahid di Jalan Allah, di tempat mana saja yang ia persangkakan. 

Salah satu sebab mengapa musuh Allah sampai hari ini berhasil 
mengalahkan Ummat Islam dan merampas negeri Islam adalah karena telah 
hilang dari jiwa kita cinta kematian di Jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda: 
"Ummat-ummat (berbagai bangsa/negara) akan berkumpul mengepung kalian 
seperti kawanan hewan buas mengelilingi meja hidangan. Para Shahabat 
bertanya, "Apakah saat itu jumlah kita sedikit?" Rasulullah menjawab, "Tidak, 
jumlah kita banyak tetapi kita seperti buih di tengah laut. Allah telah mencabut 
rasa takut dari hati musuh terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati 
kalian "Al Wahn". Mereka bertanya, "Apa itu 'Al Wahan' ya Rasulullah?" 
Rasulullah menjawab, "Cinta dunia dan takut/benci kematian". (Diriwayatkan 
oleh Abu Daud) 



Page5of28 



Kita harus menghidupkan kembali tradisi syahadah dan cinta pada kematian 
karena musuh Allah begitu gentar menghadapi orang-orang yang cinta 
kematian. 

3. Jihad dengan harta 

Di dalam berbagai ayat Al-Quran Jihad dengan harta mendahului Jihad 
dengan diri kita kecuali satu ayat (yaitu ayat 1 1 1 Surah At-Tawbah. Pent). Ini 
menunjukkan kepada kita pentingnya Jihad dengan harta, karena Jihad fi 
Sabilillah sangat memerlukan harta dan pendanaan. Dengan kata lain no 
money no Jihad, tidak ada uang maka Jihad sulit dilaksanakan, dan Jihad 
sungguh memerlukan banyak pendanaan. Inilah mengapa dalam tatsirnya Al- 
Qurtubi menjelaskan bahwa harta yang dinatkahkan untuk shodaqoh akan 
dilipatgandakan 10 kali, tetapi harta yang dinatkahkan untuk Jihad fi Sabilillah 
akan dilipatgandakan lebih dari 700 kali! 

Allah SWT bertirman: "Perumpamaan harta yang dinatkahkan di Jalan Allah 
(fi Sabilillah) seperti sebuah benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai; 
masing-masing tangkai berbuah seratus butir. Dan Allah melipatgandakan 
pahala kepada siapa saja yang Dia kehendaki". (QS Al-Baqarah 261 ) 

Mungkin kontribusi paling penting yang dapat diberikan oleh Muslim yang 
hidup di negara-negara barat (atau mereka yang keadaannya semisal) untuk 
berjihad adalah berpartisipasi dalam Jihad dengan harta mereka, karena 
dalam banyak kesempatan Mujahidin sangat memerlukan pendanaan 
melebihi kebutuhan mereka akan tenaga (orang). Al-lmam Sheikh Abdullah 
Azzam RA berkata: "Laki-laki membutuhkan Jihad, dan Jihad membutuhkan 
harta (dana)". 

Catatan editor: Yang dimaksud jihad dengan harta bukan berarti 
mensedekahkan/menyerahkan harta kepada fakir miskin, anak yatim dan lalu 
berpendapat telah menunaikan jihad, tetapi memberikan harta bagi 
kepentingan mujahidin seperti untuk membeli logistik (makanan, senjata dan 
amunisi dll). Lihat introduction to jihad dalam lecture Mashari Al-Ashwaq. 

4. Pencarian dana untuk Mujahidin (Fundraising) 

Sebagai tambahan membiayai Jihad dari uang kita sendiri, maka kita juga 
dapat mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Rasulullah 
SAW bersabda: "Siapa yang menunjukkan seseorang kebaikan maka akan 
mendapat pahala yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan 
tersebut". 

Dengan mengusahakan tundraising (kegiatan pencarian dana seperti Malam 
Dana dsb) engkau juga telah memenuhi Sunnah Rasulullah SAW dimana 
Beliau juga melakukan tundraising untuk Jihad sebelum berangkat ke medan 
perang. 

5. Membiayai seorang Mujahid 

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang ikut membiayai (termasuk membeli 
perlengkapan perang) seorang Mujahid fi Sabilillah, maka ia telah ikut 



Page6of28 



berperang". (Majma Uz-Zawaid). Ini termasuk membiayai segala hal agar 
sang Mujahid dapat berangkat ke medan perang, mulai dari biaya perjalanan, 
paspor, tiket, perbekalan, hingga perlengkapan perang. Ini memberikan 
kesempatan bagi orang kaya dan orang miskin untuk 'berkongsi' dalam Jihad 
(mutual benetit). Orang kaya membiayai orang miskin yang akan berangkat 
berjihad. 

6. Menjaga dan memelihara keluarga Mujahid 

Menjaga dan memelihara keluarga Mujahid yang ditinggalkan bisa dalam 
bentuk melindungi mereka, menatkahi dan memenuhi kebutuhan hidup 
mereka, menyediakan bantuan keuangan bagi mereka, serta menjaga 
kehormatan mereka (dari tidak meminta-minta misalnya). 

Rasulullah SAW bersabda: 

• "Siapa saja yang memelihara dan menjaga keluarga dan kekayaan 
Mujahid maka akan mendapat pahala setengah dari pahala Mujahid 
itu". (Riwayat Muslim) 

• "Kewajiban untuk menjaga kehormatan isteri para Mujahidin bagi 
mereka yang tidak berangkat berjihad adalah seperti kewajiban mereka 
dalam menjaga kehormatan ibu-ibu mereka. Jika seseorang yang tidak 
berangkat jihad berjanji untuk menjaga kehormatan isteri seorang 
Mujahid, lalu ia kemudian mengkhianatinya, maka di Hari Oiyamat 
sang Mujahid akan diberitahu bahwa orang ini telah mengkhianatinya, 
maka ambillah dari segenap pahala amal sholehnya apa yang 
diinginkan Mujahid itu. Maka sang Mujahid akan mengambil apa saja 
dari amal sholeh orang itu". (Riwayat Muslim) 

• "Siapa saja yang tidak (pernah) berperang, atau tidak ikut membiayai 
para Mujahidin, atau tidak ikut memelihara/menyantuni keluarga para 
Mujahidin, maka Allah akan menimpakan bencana dan kehinaan 
sebelum kematiannya datang". (Riwayat Abu Daud) 

Jika seseorang khawatir akan keselamatan dan nasib keluarganya, setan 
akan berusaha mencari celah dan mencegahnya dari berangkat berjihad. 
Mungkin orang itu akan tetap berangkat berjihad, maka setan akan berusaha 
melemahkan hatinya dengan membisikkan padanya tentang nasib orang- 
orang tercinta yang ditinggalkan. Karena itulah, menjaga dan memelihara 
keluarga Mujahidin akan menolong Mujahidin untuk mengokohkan hati dan 
menaikkan moral mereka. Dan betapa Islam menaruh perhatian yang sangat 
besar atas persoalan menjaga dan memelihara keluarga dan kekayaan 
Mujahidin. 

7. Menanggung keluarga para Syuhada 

Para Syuhada telah berjuang demi Islam dan Kaum Muslimin. Mereka 
mempersembahkan hidupnya dan mati untuk saya dan juga kalian. Maka 
wajib bagi kita untuk menghormati dan melayani keluarga para Syuhada. 
Ketika Ja'far bin Abi Thalib terbunuh di Perang Mu'tah, Rasulullah SAW 
berkata kepada para isterinya: "Siapkan makanan untuk keluarga Ja'far, 
karena mereka tengah dirundung kesedihan. Lalu Beliau mengunjungi 
keluarga Ja'far. (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi). 



Page7of28 



Imam Ahmad RA meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW menerima 
kabar syahidnya Ja'far, Beliau segera pergi mengunjungi rumahnya dan 
meminta isteri Ja'far untuk mengumpulkan anak-anaknya. Ketika anak-anak 
itu telah berkumpul, Beliau SAW memeluk mereka semua dan mencium 
wajah mereka sementara air mata Beliau jatuh bercucuran. Asma, isteri 
Ja'far, berkata: Saya bertanya pada Rasulullah apa yang telah terjadi. 
Rasulullah menjawab: "Ja'far telah syahid". Asma berkata: Ketika aku 
mendengar kabar itu aku menangis dan menjerit. Rasulullah SAW kemudian 
pergi dan berkata kepada para isterinya: "Sediakan makanan untuk keluarga 
Ja'far karena mereka saat ini tengah diliputi kedukaan". 

Anak-anak yatim para syuhada membutuhkan seseorang dari ummah ini yang 
peduli untuk menjadi ayah bagi mereka. Para janda/isteri syuhada 
seharusnya mendapat kesempatan prioritas untuk dinikahkan kembali jika ia 
menginginkannya. Hal ini membutuhkan dua perubahan budaya di tengah 
masyarakat. Yang pertama: masyarakat Muslim harus merubah cara pandang 
negatitnya atas para wanita yang berstatus sebagai janda. Sayangnya, 
sampai saat ini banyak kaum lelaki dan pemuda, menghindari menikahi para 
janda. Stigma seperti ini yang melanda para Saudari muslimah kita yang 
berstatus janda harus segera diubah. Kedua: masyarakat Islam saat ini masih 
sangat antipati terhadap poligami, yang sesungguhnya adalah satu solusi 
yang telah disediakan Allah khususnya pada masa perang seperti dewasa ini. 
Bukankah menjadi suatu hal yang tidak adil jika kita "mengabaikan" nasib 
jutaan Saudari muslimah kita, sehingga mereka tidak dapat merasakan 
keberkahan pernikahan? 

Di masa para Shahabat, tidak ada seorang wanita yang dibiarkan sendiri 
tanpa adanya suami, sebagai pendamping yang akan memenuhi kebutuhan 
psikologi, tinansial, dan fisik dari para Saudari muslimah itu. Ketika Ja'far 
syahid di Perang Mu'tah, Abu Bakr RA menikahi isteri Ja'far dan menanggung 
keluarganya. 

8. Menanggung keluarga para Mujahid yang dipenjara 

Merawat dan menanggung keluarga seorang Mujahid yang sedang dipenjara 
sama pahala dan keutamaannya dengan menanggung keluarga para Mujahid 
yang sedang berjihad. Sungguh sangat penting dan urgen agar praktek 
taawun (saling menolong) seperti ini menjadi norma kebiasaan dalam 
masyarakat Muslim, sehingga ketika ada ikhwah (saudara kita) yang pergi 
berjihad fi Sabilillah, mereka akan merasa tenang karena mereka mengetahui 
bahwa jika mereka terbunuh atau tertangkap, keluarga mereka tidak akan 
terlunta-lunta. 

9. Membayar zakat kepada Mujahidin 

Distribusi/pembagian zakat dibatasi kepada 8 kategori (8 asnaf) yaitu: 
"Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang faqir, orang miskin, para amil 
(pengurus) zakat, para mualat yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan 
budak, untuk melunasi orang yang berhutang, untuk fi Sabilillah, dan untuk 
ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan)..." (QS At-Tawbah 60) 



Page8of28 



Fi Sabilillah, di Jalan Allah, pada ayat di atas merujuk kepada Mujahidin. Para 
Fuqoha Maliki seperti Abu Bakr bin Al-Arabi menyatakan: Imam Malik berkata, 
"fi Sabilillah memiliki banyak arti, tetapi semua bersepakat, bahwa pengertian 
fi Sabilillah di sini adalah Jihad". 

Imam An-Nawawi RA menyatakan dalam Al-Minhaj ketika membahas tentang 
pengeluaran zakat: "Mujahidin fi Sabilillah harus diberikan natkah untuk apa 
saja yang ia butuhkan, juga natkah bagi keluarganya selama ia pergi berjihad 
hingga ia kembali pulang. Meskipun kepergiannya memakan waktu yang 
sangat lama". 

Saat ini tidak banyak orang yang membayarkan zakatnya kepada Mujahidin. 
Tetapi seandainya saja Ummat Islam dapat terhindar dari bisikan setan yang 
menipu, mereka akan menyadari bahwa dewasa ini penunaian zakat yang 
utama adalah untuk Mujahidin. Rasulullah SAW pernah bersabda: "lnfaq dan 
shodaqoh tidak boleh diberikan kepada golongan yang kaya, kecuali kepada 
lima golongan". Salah satu yang disebutkan Nabi SAW adalah Mujahidin fi 
Sabilillah. (Riwayat Abu Daud). Maka jika zakat saja boleh diberikan kepada 
Mujahidin padahal ia adalah seorang yang kaya dan mampu, bagaimana 
dengan kondisi dewasa ini ketika Mujahidin kita hari ini setidaknya berasal 
dari golongan yang menghimpun 4 kategori penerima zakat sekaligus (asnaf) 
yaitu: mereka adalah kaum yang faqir (sangat membutuhkan), sekaligus 
mereka juga adalah orang-orang yang miskin, mereka adalah ibnu sabil 
(karena mereka adalah muhajirun, orang yang berhijrah meninggalkan 
kampung halaman dan negerinya), dan mereka beradadalam Fi Sabilillah! 

Maka bayarkanlah zakatmu kepada Mujahidin dan ajaklah sebanyak mungkin 
orang untuk melakukan hal yang sama. 

10. Kontribusi dalam memenuhi kebutuhan medis dan pengobatan 
Mujahidin 

Mujahidin sangat membutuhkan bantuan medis apa saja yang bisa mereka 
dapatkan. Mereka sangat membutuhkan para dokter dan pekerja medis 
lainnya, mereka membutuhkan rumah sakit dan klinik, dan mereka 
membutuhkan obat-obatan. Ada ratusan bahkan ribuan dokter muslim. Tetapi 
betapa banyak kami mendengar berbagai kisah tentang Mujahid yang terluka, 
yang sesungguhnya luka mereka dapat tertolong, tetapi mereka akhirnya 
syahid menghadap Allah karena tiadanya pertolongan medis yang memadai. 
Luka tidak membahayakan yang karena tidak ditangani dengan baik telah 
menyebabkan Para Mujahid ini menderita sakit yang sangat panjang sebelum 
akhirnya syahid. Kepada kalian wahai Ummah, yang mempelajari ilmu medis 
dan kedokteran, dan kalian berkata bahwa kalian mempelajarinya karena 
untuk meraih ridla Allah, kepada kalian kami katakan: "Aina Antum, Di 
manakah kalian?" 

(Al-lmam Abdullah Azzam bercerita, banyak operasi amputasi dilakukan 
sementara sang Mujahid yang terluka dalam keadaan sadar, dan alat yang 
digunakan adalah gergaji kayu! Sehingga sang Mujahid ini gugur syahid 
bukan karena lukanya, tetapi karena kehabisan darah setelah amputasi. Pent) 



Page9of28 



Disebutkan bahwa Amir Khattab (Shamir bin Sholeh As-Suwailim), Panglima 
Foreign Mujahideen legendaris di Chechnya, pernah terluka dan para 
sahabatnya tidak dapat menemukan satupun dokter Muslim yang dapat 
memberi perawatan medis untuknya. Akhirnya Beliau terpaksa dibawa ke 
klinik Palang Merah, dan para sahabatnya memaksa petugas Palang Merah 
untuk memberi perawatan medis bagi Khattab di bawah todongan senjata! 

Para dokter dan pekerja kesehatan Muslim memiliki tanggung jawab sangat 
besar dan kontribusi mereka begitu diperlukan. Kenyataannya bisa jadi 
pahala mereka bahkan lebih besar dari pahala para Mujahid. 

11. Memberikan dukungan moral dan dorongan semangat 

Ketika Mujahidin mendengar para Imam memanjatkan doa untuk mereka, 
atau para ulama menyampaikan fatwa untuk mendukung dan membela 
mereka, serta mendengar masyarakat Islam memuji dan menyemangati 
mereka, hal ini akan membuat semangat mereka menggebu-gebu dan 
meneguhkan hati mereka. Sayangnya, kami mendapati banyak Muslim 
mengkhianati saudara mereka sendiri Mujahidin dengan melontarkan cercaan 
dan hinaan terhadap mereka (dengan berkata bahwa Mujahidin adalah 
teroris, bahwa aksi jihad adalah irhab/teror, mereka membeda-bedakan bumi 
jihad, dan lainnya. Pent). Kami menyaksikan banyak ulama mengeluarkan 
fatwa yang mendukung pemerintah murtaddin dalam rangka memerangi 
Mujahidin. Janganlah engkau meremehkan efek negatit pengkhianatan 
seperti ini terhadap Mujahidin. 

12. Melindungi Mujahidin dan bangkit membela mereka 

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, 
maka Allah akan menjaga wajahnya dari api neraka pada Hari Qiyamat nanti". 
(Riwayat At-Tirmidzi) 

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membiarkan kesucian saudara 
muslimnya dilecehkan dan kehormatannya dihinakan, maka Allah akan 
meninggalkannya ketika ia tengah sangat butuh pertolongan. Dan 
barangsiapa melindungi kesucian saudara muslimnya, dan membela 
kehormatannya, maka Allah akan melindungi dan membelanya ketika ia 
tengah membutuhkan pertolongan". (Diriwayatkan oleh Abu Daud) 

Maka wajib bagi kita untuk bangkit membela dan mempertahankan saudara 
kita yang telah membela kita dan agama kita. Seperti "hukum ibu jari", kita 
tidak boleh saling bersepakat (dalam kata dan tindakan) untuk melawan 
saudara kita di dalam Islam, terlebih lagi melawan mereka yang telah 
mempersembahkan hidupnya demi membela Islam. Dan kita tidak boleh 
saling bersepakat (dalam kata dan tindakan) untuk membela kaum kafir yang 
adalah musuh Allah SWT. 

Dan jika engkau tidak mampu menyampaikan kebenaran, maka diam adalah 
lebih baik. 

13. Melawan kebohongan media barat 



Page10of28 



Kita melihat persepsi dari banyak Muslim dewasa ini dibentuk dan diarahkan 
oleh media barat. Padahal Allah SWT bertirman: "Wahai orang Mu'min, jika 
datang orang fasiq kepadamu membawa berita, maka periksalah dengan 
teliti, agar jangan engkau menimpakan satu mushibah pada satu kaum 
disebabkan karena ketidaktahuanmu, yang menyebabkan engkau kemudian 
menyesal". (QS Al-Hujurat 6). 

Lalu bagaimana jika ternyata yang membawa berita itu bukan hanya fasiq, 
tetapi kafir? 

Media barat telah memainkan perannya yang sangat berbahaya, karena 
kenyataannya mereka sengaja membungkus kejahatan dan kekejian dengan 
jubah kebenaran dan obyektititas. Tidakkah engkau perhatikan, media barat 
secara konsisten berusaha menutupi segala kekejian dan kekejaman yang 
dilakukan pihak barat (kuffar) sementara mereka "memblow-up" berbagai 
insiden, yang sesungguhnya sangat kecil dan tak sebanding dengan 
kejahatan barat, jika insiden itu dilakukan oleh Muslim? Tidakkah engkau 
perhatikan bagaimana media barat telah berhasil mempresentasikan para 
auliya Allah yaitu mereka yang berjihad membela nama-Nya, sebagai 
pengikut setan dan kejahatan, sementara Firaun masa kini beserta seluruh 
aliansinya dipersepsikan sebagai tentara kebaikan dan tentara pembebasan? 
Media barat telah memainkan perannya dengan sangat baik dalam 
menyebarkan kebohongan kepada masyarakat Muslim kita. 

Inilah rentetan kenyataannya. Media barat secara konsisten telah melakukan 
aksi demonisasi (pemburukan citra) terhadap Mujahidin, menyebarkan 
berbagai kebohongan tentang Mujahidin, memblow-up kekeliruan mereka 
(meski itu sekedar kekeliruan kecil), menebarkan benih perpecahan di antara 
Mujahidin, berusaha membunuh karakter dan menghancurkan citra/reputasi 
para pimpinan Jihad. Mereka juga mengabaikan atau memburukkan citra para 
ulama yang shidiq (lurus), sementara di sisi lain mengagung-agungkan serta 
mempromosikan para ulama su' (ulama thowaghit yang bersedia mengikuti 
mereka). 

Karena itu saudara saudariku, di antara bagian kewajiban kita adalah 
mengkampanyekan kesadaran kepada masyarakat Muslim kita tentang 
betapa berbahayanya media barat ini. Kalian harus mendorong masyarakat 
Muslim untuk bersikap hati-hati dan kritis terhadap media barat. Seorang 
Muslim tidak boleh mempercayai narasumber yang berasal dari barat kecuali 
telah dikontirmasi oleh sumber Muslim yang terpercaya (trustworthy). Saya 
katakan sumber Muslim yang terpercaya, karena ayat Al-Quran yang 
berbicara tentang peringatan Allah terkait dengan berita adalah berita yang 
bersumber dari orang Muslim (yang fasiq). Bukan berarti kita tidak menerima 
segala hal yang disampaikan media barat itu sampai-sampai ke berita 
mengenai ramalan cuaca! Tidak, tetapi yang ingin kami tegaskan adalah 
hendaknya engkau bersikap kritis dan tabayyun khususnya jika berita itu 
terkait dengan Islam dan Muslimin. Kita sering menyaksikan bagaimana 
media yang telah terkenal reputasinya sebagai media yang obyektit dan 
menjunjung tinggi kode etik pers dapat berubah menjadi media "pembohong" 
dan manipulatit manakala berita yang diangkat adalah berbagai berita tentang 



Page 11 of 28 



Ummat Islam. Kita menyaksikan orang-orang kafir telah mentradisikan 
"kedengkian" terhadap kita bahkan semenjak awal fajar sejarah Islam, lalu 
apakah ada alasan kuat bagi kita untuk percaya bahwa saat ini mereka telah 
berubah? 

14. Membongkar kebusukan Kaum Munafiq 

Kaum Munafiqin telah memainkan peran yang sangat membahayakan 
masyarakat Islam bahkan semenjak masa Nabi SAW, dan berlangsung 
hingga sekarang. Rasulullah SAW memerangi mereka dan memerintahkan 
kita memerangi mereka dengan membongkar segala kebusukan mereka. 
Jika pertempuran terhadap kaum kuffar utamanya dengan senjata, maka 
pertempuran terhadap kaum munafiq menggunakan bayan, penjelasan, ide, 
dan hujjah. Orang munafiq bersembunyi di balik tameng agama dan simbol- 
simbol religius untuk menyebarkan ide beracunnya, maka salah satu cara 
untuk menghadapi mereka adalah menyampaikan Al-Haqq dan membuka 
kebohongan mereka. Senjata kalian untuk menghadapi mereka adalah Al- 
Quran dan Sunnah. 

Beberapa tokoh munafiq ini bisa jadi sangat kharismatik. Mereka tampil 
sangat impresit, menarik perhatian (ditambah lagi blow-up media massa 
terhadap jati diri mereka). Tetapi sesungguhnya mereka semua palsu. Allah 
SWT bertirman: "Jika kamu melihat mereka, penampilan mereka akan 
membuatmu kagum. Dan jika mereka bicara, maka kamu akan 
mendengarkannya. Mereka seperti kayu yang tersandar. Mereka mengira 
bahwa setiap teriakan yang keras ditujukan terhadap mereka. Mereka itu 
adalah musuh sebenarnya, maka waspadalah terhadap mereka. Semoga 
Allah menghancurkan mereka, bagaimanakah mereka sampai dapat 
dipalingkan (dari kebenaran)?" (QS Al-Munafiqun 4) 

Para ulama su' (ulama yang buruk), serta penyebar ideologi sesat adalah di 
antara mereka dan harus dihadapi dengan hujjah untuk mengungkapkan 
kebusukan mereka. 

15. Mendorong orang lain untuk berjihad 

Mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan adalah salah satu bentuk 
ibadah. Pekerjaan ini adalah salah satu amal dari usaha amar ma'ruf nahi 
munkar. Sebagai tambahan, mendorong ummat untuk berjihad adalah salah 
satu bentuk ibadah yang secara khusus diperintahkan Allah SWT kepada kita. 
Allah SWT bertirman: "Wahai Nabi, doronglah kaum Mu'minin untuk 
berperang..." (QS Al-Anfaal 65). Dan Allah SWT bertirman: "Maka 
berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan 
dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para Mukmin (untuk 
berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir 
itu. Allah Amat besar Kekuatan dan Amat keras Siksaan(Nya)." (QS An-Nisaa 
84) 

16. Melindungi Mujahidin dan menjaga rahasia mereka (Wa'yul Amni) 

Kita harus menjaga lisan kita. Kadangkala engkau membahayakan 
saudaramu secara tak sengaja karena lisanmu. Seorang Muslim harus 



Page12of28 



membiasakan dirinya untuk mampu menjaga rahasia. Kita dapat mengambil 
ibrah dan pelajaran dari Sirah (sejarah) bagaimana para Shahabat menolak 
menceritakan bahkan kepada para isteri mereka jika hal itu merupakan 
rahasia yang disampaikan Nabi SAW kepada mereka. Kadangkala engkau 
perlu menjaga rahasia dan tidak memberitahukannya kepada orang-orang 
terdekatmu : isteri, orang tua, anak dan saudara, karena mereka ini bisa jadi 
celah yang dapat menerobos kita. Seorang Muslim cukuplah mengatakan 
sesuatu yang memang perlu untuk dikatakan. Bekerjalah berdasarkan prinsip 
"sebatas tahu dan sebatas perlu". Banyak amal-amal serta pekerjaan Jihad 
yang pada dasarnya bersitat rahasia dan klandestin (tersembunyi). Maka 
hendaknya kita berhati-hati dengan lisan kita. Banyak kegagalan dan bahaya 
menimpa berbagai pekerjaan Jihad disebabkan seorang ikhwah yang pada 
dasarnya adalah orang yang baik dan jujur tetapi tidak berhati-hati menjaga 
lisannya. 

Musuh Islam berusaha merekrut Muslim untuk menyusup (intiltrasi) dalam 
berbagai pekerjaan seputar Islam. Mereka akan berkata kepada kita bahwa 
apa yang kita kerjakan itu demi melindungi Islam. Mereka bahkan dapat 
mendatangkan ulama untuk meyakinkan kita. Di antara kewajiban yang harus 
engkau lakukan dalam hal ini adalah memperingatkan masyarakat Islam 
bahwa kegiatan mata-mata (tajassus, mengintai) terhadap sesama Muslim 
untuk kepentingan kaum kuffar dan antek-anteknya adalah satu tindakan 
kekuturan. Allah SWT bertirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah 
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin- 
pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang 
lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka 
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah 
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al-Maidah 51) 

17. Berdoa untuk Mujahidin 

Jangan pernah meremehkan doa yang tulus dan ikhlash. 
Rasulullah SAW bersabda: "Ummat ini diberi kemenangan melalui kaum yang 
lemah di antara mereka, melalui doa yang mereka panjatkan, doa yang tulus 
dan ikhlash. Berdoalah sentiasa untuk Mujahidin di setiap sujudmu karena itu 
adalah saat paling dekat antara engkau dengan Rabbmu. Yang juga penting 
adalah doa qunut di dalam shalat. Doronglah para Imam masjid untuk 
memanjatkan doa qunut setiap shalat terutama ketika terjadi kondisi genting 
atau membahayakan Mujahidin. Ini adalah Sunnah Rasulullah SAW. 

Salah seorang Panglima Besar Islam dari Bani Umayyah, Komandan 
Outaibah bin Muslim Al-Bahili berkata dalam satu pertempuran: "Melihat 
Sheikh Muhammad bin Wasi' (salah seorang ulama salat) mengangkat 
telunjuknya ke angkasa (untuk berdoa kepada Allah di tengah kecamuk 
perang) lebih aku sukai daripada seribu bilah pedang termasyhur di tangan 
seribu pemuda perwira". 

18. Mengikuti berita tentang Jihad dan menyebarkannya 

Sentiasa mengikuti perkembangan Jihad dan Mujahidin sangat penting 
karena : 



Page13of28 



• Akan menjaga engkau untuk tetap "menyatu" dengan Jihad dan 
berinteraksi secara hidup 

• Akan mengokohkan rasa "sense of belonging" (rasa memiliki), ghirah 
(semangat, kecemburuan) demi Ummat ini 

• Akan semakin meneguhkan cita-citamu untuk bergabung dalam Jihad, 
manakala engkau menyaksikan berbagai aksi kepahlawanan para 
Mujahidin. Juga akan menajamkan cita-cita serta doamu untuk mati 
syahid, manakala engkau menyaksikan keteguhan dan keperwiraan para 
syuhada. 

• Mereka yang sentiasa mengikuti perkembangan berita Jihad dan 
Mujahidin akan menyaksikan bagaimana Allah melindungi dan membela 
hamba-hamba-Nya serta memimpin mereka meraih kemenangan. Mereka 
akan menyaksikan bagaimana Ummat ini diarahkan menuju Era Islam di 
bawah kepemimpinan At-Thaifah Al-Manshurah, sebagaimana telah 
banyak disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW. 

• Membaca dan mempelajari Sirah An-Nabawiyyah (Sejarah Nabi) serta 
fiqh tentang Jihad akan memberimu wawasan teoritis. Sementara 
mengikuti perkembangan berita Jihad dan Mujahidin akan memberimu 
wawasan praktis dan teladan nyata bagaimana saudaramu Mujahidin 
tengah menerapkan berbagai teori ini ke dalam kancah kehidupan nyata. 
Hal ini akan memberimu wawasan yang nyata dan pemahaman yang 
realistis. 

• Berita tentang Jihad sesungguhnya berita tentang peperangan abadi 
antara Al-Haqq melawan Al-Bathil yang telah berlangsung semenjak 
masa Nabi Adam 'Alaihissalam hingga Hari Qiyamat nanti. Mengikuti 
berbagai perkembangan Jihad akan menghidupkan interaksimu dengan 
Al-Quran. Ketika engkau membaca Al-Quran dan mempelajarinya dengan 
wawasan jihad maka akan semakin erat pertalian engkau dengan 
Kitabullah daripada mereka yang membaca/mempelajari Al-Quran tetapi 
"menutup dirinya" dari berbagai dinamika nyata kehidupan dan tenggelam 
di "ketinggian menara gading" (sekilas tampak tinggi dan mulia tetapi 
amat rendah). Hubungan dan pemahamanmu dengan Kitabullah akan 
mencapai puncaknya ketika engkau terjun langsung dalam kontlik 
pertempuran abadi ini tatkala engkau bergabung dalam barisan 
Mujahidin. 

Saya perlu untuk menegaskan kembali apa yang telah saya jelaskan di point 
13, yaitu engkau harus mengambil dan menyebarkan berita dari sumber yang 
terpercaya. Karena menyebarkan rumor dan kabar burung adalah salah satu 
karakter orang munafiq. Allah SWT bertirman: "Dan apabila datang kepada 
mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu 
menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil 
Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui 
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). 
Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu 
mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." (QS An-Nisaa 
83) " 

19. Menyebarkan artikel tentang Mujahidin dan karya ilmiah para Ulama 
mereka 



Page14of28 



Sungguh sangat disayangkan kita mendengar beberapa kalangan Muslim 
berkata bahwa Mujahidin tidak memiliki ulama yang mendukung mereka dan 
mengarahkan mereka. Mereka mengklaim bahwa karena tidak adanya ulama, 
maka Mujahidin dalam aksinya sangat reaksioner, spontan, dan tanpa strategi 
yang jelas dan matang. Kenyataannya ada banyak ulama dan para pemikir 
strategis yang saat ini mendukung Jihad. Permasalahannya, karena mereka 
berada di atas Al-Haqq maka kebanyakan mereka telah terbunuh syahid, 
tengah dipenjara, atau terpaksa bergerak di bawah tanah secara rahasia 
(underground). Meskipun begitu Alhamdulillah, Jihad tetap memiliki sumber 
daya dan materi yang mendukung pelaksanaannya dan mengarahkan 
strateginya. 

Kenyataannya banyak tulisan, analisa, pembahasan masalah, dan karya 
ilmiah para Ulama Jihad (Ulama Ahlu-Tsugur) mungkin yang paling baik, 
paling mendalam, paling kuat hujjahnya, dan sangat berakar aspek 
syariahnya. Hal ini tidak aneh karena mereka berbicara dan mengungkapkan 
segala hal apa adanya, jujur. Mereka menyampaikan Al-Haqq sebagaimana 
sejatinya Al-Haqq itu, tanpa perlu mengabaikan berbagai hujjah syariah yang 
telah nyata, atau memanipulasi berbagai teks syariah, atau mencari-cari fatwa 
atau pendapat "aneh" (sebagaimana sering dilakukan para ulama thowaghit 
dalam rangka mencari "pembenaran" atau legitimasi syar'i atas pesanan para 
pemerintah murtaddin). Para Ulama Mujahidin menampakkan secara tegas 
bahwa mereka tidak takut pada siapapun dan pada apapun. Mereka hanya 
takut kepada Allah. Mereka juga tidak khawatir dibenci atau membuat orang 
lain menjadi marah asalkan Allah ridla kepada mereka. Mereka senantiasa 
merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Shohihah, serta pemahaman dan 
atsar Salatush Sholeh, seperti para ulama salaf dari ummat kita, antara lain 
Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Imam An-Nawawi, Al-Qurthubi, Al Hafidz Ibnu Katsir, 
Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah, serta Imam yang empat. Tidak ada yang 
mereka sembunyikan atau mereka tutup-tutupi. Hal ini membuat karya ilmiah 
mereka adalah yang paling jelas dan dapat meyakinkan banyak orang, 
shohih, shorih, dan rajih. 

Untuk mengatasi masalah tidak adanya penerbit atau media yang mau 
menerbitkan dan menyebarkan karya mereka, maka tugas ini jatuh ke pundak 
Mujahidin dan para pendukungnya untuk menyebarkan karya ilmiah para 
ulama Mujahid. Ini adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab kita untuk 
menyebarkan ilmu mereka. Beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam 
bagian ini: 

• Menyebarkan buku/artikel dan risalah kepada keluarga, kerabat, dan 
teman. 

• Memposting berbagai materi dan risalah ke internet (online). 

• Merancang dan mengelola website (situs, blog, milis, dll) untuk 
mempublikasikan risalah itu. 

• Mengelola jejaring milis (newsgroup). 

• Menyebarkan risalah ke masjid-masjid. 

• Mendistribusikan risalah di perkumpulan-perkumpulan dan halaqah. 

• Aktif ikut serta dan membina lingkar-lingkar halaqah yang mempelajari 
risalah tersebut. 



Page15of28 



20. Menerbitkan dan menyebarkan fatwa untuk mendukung Mujahidin 

Masih ada para ulama yang tetap bersedia berbicara menegaskan 
kebenaran. Para ulama hanit seperti ini harus didorong untuk mendukung 
Mujahidin, dan para ikhwah harus mendukung ulama ini, sehingga para ulama 
hanit itu mengetahui ada para ikhwah (rekan, teman atau murid) yang 
mendukungnya. Fatwa dari para ulama ini harus disebarluaskan. Ada banyak 
Saudara dan Saudari, serta para pemuda yang sesungguhnya memiliki 
pandangan yang sama dan menyepakati pandangan dan pemikiran Mujahidin 
tetapi mereka belum betul-betul bersedia menerimanya hingga mereka 
menyaksikan ada ulama yang menyetujui dan mendukung manhaj (pemikiran 
dan pandangan) itu. Sesungguhnya segenap ummat ini tengah menanti 
adanya ulama yang akan mengarahkan mereka. 

21. Menyampaikan intormasi dan berbagai perkembangan Jihad dan 
Mujahidin kepada para Ulama dan Imam 

Menjadi seorang ulama bukan berarti ia mengetahui segala hal dan 
perkembangan yang sedang berlangsung. Bahkan kenyataannya, seseorang 
yang mengambil spesialisasi pada disiplin ilmu tertentu menjadi sangat tokus 
pada ilmunya itu, dan mengabaikan ilmu yang lain. Para ulama dan imam 
perlu untuk senantiasa diberikan intormasi yang shohih. Dalam beberapa 
pengalaman saya bertemu dan berdiskusi dengan beberapa ulama, bahkan 
beberapa di antara mereka adalah ulama kaliber dunia, saya dibuat heran 
mengetahui ternyata banyak di antara mereka yang sedikit pengetahuannya 
tentang Mujahidin. Mereka tidak tahu dan kekurangan intormasi tentang 
Mujahidin, juga tentang pendirian/sikap Mujahidin atas suatu isu, mereka juga 
kekurangan berita serta materi publikasi tentang Mujahidin. 

Musuh Islam mengetahui peran penting ulama dalam masyarakat Islam. 
Karena itu mereka memberikan perhatian khusus kepada para ulama. Musuh 
Islam sangat senang jika para ulama kita disibukkan dalam debat dan 
berselisih mengenai berbagai isu dan masalah yang bukan isu pokok/penting, 
karena perdebatan ini dapat mengalihkan perhatian para ulama dari berbagai 
isu sentral dan nyata yang tengah dihadapi oleh Ummat. 

Apa yang dapat dilakukan oleh ikhwah sekalian, adalah mempengaruhi para 
ulama itu, dan mengarahkan cara pandangnya kepada isu penting dan sentral 
yang tengah terjadi. Karena ketika engkau dapat mengarahkan pola pandang 
sang ulama, berarti engkau dapat mengarahkan pola pandang ribuan Muslim 
yang lain. Berikanlah para ulama berbagai bahan bacaan pilihan. Pada tahap 
awal, berikanlah kepada mereka bahan materi yang ringkas. Ingatlah, para 
ulama itu cenderung selalu berada dalam keadaan sibuk, dan memiliki 
banyak agenda serta bahan di meja kerja mereka yang harus mereka telaah 
dan pelajari. Karena itu kita harus mengikuti irama kerja mereka dan 
mengakomodasi kesibukan mereka. Berdiskusilah dengan mereka terkait 
dengan bahan yang mereka baca, dan berdiskusilah dengan mereka sebagai 
murid, bukan sebagai lawan diskusi (opponent). Hindari mengkontrontasi 
mereka dengan pertanyaan kontroversial, karena kekhawatiran atau 
kewaspadaan mereka akan dapat menyebabkan mereka menghujani engkau 



Page16of28 



dengan rentetan opini yang sebetulnya tidak benar-benar mereka yakini, 
tetapi mereka kemudian bersikukuh dan membela mati-matian opini tersebut 
hanya karena mereka telah mengatakannya. Berikanlah para imam dan 
khatib bahan untuk diskusi dan khutbah mereka, sehingga mereka dapat 
menyampaikan bahan materi itu dalam khutbahnya, khususnya khutbah 
Jum'at. 

22. Melatih kebugaran fisik 

Rasulullah SAW bersabda: "Mu'min yang kuat lebih dicintai Allah daripada 
Mu'min yang lemah, dan pada keduanya tetap ada kebaikan." (Diriwayatkan 
oleh Muslim). 

Melatih kekuatan fisik adalah bagian dari 1'dad (persiapan) untuk Jihad. Yang 
diperlukan oleh Jihad bukanlah tubuh yang kekar dan atletis tetapi adalah 
seorang Mujahid yang dapat berjalan jauh berjam-jam lamanya tanpa 
istirahat, mampu berlari jarak jauh yang sangat penting dalam perang gerilya, 
dapat berlari cepat (sprint) yang sangat berguna dalam perang gerilya kota, 
serta lincah mendaki gunung, bukit dan tebing, serta terbiasa menahan hawa 
dingin menusuk tulang atau terik panas matahari. Dan hal ini harus dilakukan 
sambil membawa beban yang berat (senjata, amunisi dan perbekalan). Di 
medan Jihad seperti Bosnia dan Chechnya, seorang Mujahid yang lemah 
atau sakit akan menjadi beban/penghalang bagi saudaranya yang lain, karena 
ikhwah yang lemah ini akan memperlambat gerak pasukan secara 
keseluruhan, serta mudah jatuh ke tangan musuh. Karena itu melatih 
ketahanan, endurance (daya tahan, keshabaran) lebih didahulukan. Baru 
setelah itu kita dapat melatih kekuatan (strength) dan kelenturan (flexibility). 

Meskipun seorang Muslim tidak sedang berangkat berjihad, kebugaran fisik 
tetap penting. Sebagai contoh, seorang Muslim yang kuat tisiknya dapat 
bertahan menghadapi siksaan di penjara lebih lama daripada Muslim yang 
lemah. Kaum Muslim generasi terdahulu senantiasa dalam keadaan sehat 
dan kuat karena mereka menjalani hidup sehari-hari dalam tradisi kemiliteran 
(askari, ketentaraan). Shahabat Amir bin Ash, salah seorang Panglima Islam 
yang membuka Mesir pada masa Khalitah Umar RA dan kemudian ditunjuk 
sebagai gubernur di sana pernah menyampaikan dalam khutbah Jum'at: 
"Saya tidak ingin melihat kalian bertambah gemuk sementara kuda-kuda 
kalian bertambah kurus. Jika saya melihat hal itu, maka saya akan 
mengurangi gaji kalian sepadan dengan pertambahan berat badan kalian. " 

Ikhwah fillah, berlatih kebugaran fisik dengan niat yang benar adalah salah 
satu bentuk ibadah. Dan para Saudari kita juga tidak terkecuali. Para Saudari 
muslimah kita juga harus sehat dan kuat. Menjadi tanggung jawab dari 
komunitas Muslim untuk mengusahakan sarana yang memungkinkan bagi 
Saudari Muslimah kita untuk berlatih kekuatan fisik yang sesuai dengan 
tuntunan syariat. 

23. Berlatih senjata 

Mempersiapkan diri untuk Jihad adalah kewajiban karena hukum jihad 
dewasa ini adalah kewajiban atas setiap muslim (taridlah 'ain). Dan salah satu 
prinsip hukum syariat berbunyi: "Suatu kewajiban yang tidak dapat dilakukan 



Page17of28 



kecuali dengan memenuhi prasyaratnya, maka usaha untuk memenuhi 
prasyarat tersebutjuga menjadi kewajiban". 

Berlatih mengenal dan menggunakan senjata adalah bagian yang sangat 
esensial (penting) dalam persiapan Jihad. 

Allah SWT bertirman: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan 
apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk 
berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah 
dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak 
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu 
natkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu 
dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). " (QS Al-Anfaal 60) 

Dan mengomentari ayat 60 Surah Al-Anfaal ini, Rasulullah SAW bersabda: 
"Sesungguhnya kekuatan itu ada pada melontar (menembak), sesungguhnya 
kekuatan itu ada pada melontar (menembak)." (Diriwatkan oleh Muslim) 

Persoalan ini sangat kritis, sehingga jika pelatihan senjata tidak dimungkinkan 
di negeri kalian, maka engkau harus berusaha mencari kesempatan pelatihan 
seperti itu di negara lain, jika engkau mampu. 

24. Keterampilan medis dan P3K 

Dalam banyak situasi Mujahidin tidak dapat mengakses rumah sakit dan 
klinik. Maka keterampilan medis dan P3K menjadi pilihan yang ada. Karena 
itu berlatih keterampilan P3K sangat relevan untuk menghadapi berbagai 
kemungkinan eksterm yang dihadapi di medan Jihad. Maka perlu ada 
koordinasi antara Saudara/Saudari yang ditunjuk untuk mendalami 
keterampilan medis dan P3K untuk berkoordinasi dengan ikhwah yang 
memiliki pengalaman dalam Jihad, sehingga ikhwah yang mendalami bidang 
medis tersebut dapat memiliki gambaran tentang situasi yang mungkin 
dihadapi. 

25. Mempelajari Fiqh Jihad 

Engkau harus berusaha mempelajari dan memahami fiqh Jihad, termasuk 
fatwa para ulama terkait berbagai isu yang dihadapi Mujahidin saat ini. 
Berbagai pemahaman yang mesti dipelajari misalnya hukum Jihad dewasa 
ini, hukum dan kondisi Daarul Harb, permasalahan seputar status sipil dan 
militer dan 'collateral damage' (korban tak disengaja/tak terhindarkan), 
masalah perjanjian keamanan dengan pemerintahan non-muslim, 
permasalahan menegakkan jihad ketika tidak ada Imam dan hukum 
pemerintahan Muslim yang memerintah saat ini. Mempelajari berbagai aspek 
fiqh Jihad ini sama pentingnya dengan mempelajari tadlilah Jihad (keutamaan 
Jihad) seperti yang dijabarkan dalam buku Masyari' Al-Asywaq ila Mashari' Al- 
'Usyaq karya Sheikh-ul Jihad Ibnu Nuhas Ad-Dimasyqi. Engkau juga perlu 
untuk mempelajari berbagai tulisan para ulama dan cendekiawan yang tengah 
memetakan kondisi Jihad hari ini. 

26. Melindungi Mujahidin dan membantu mereka 



Page18of28 



Allah SWT bertirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan 
berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang- 
orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang- 
orang muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. " (QS Al-Anfaal 

72) * 

Allah SWT bertirman: "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta 
berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman 
dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah 
orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan 
rezki (nikmat) yang mulia. " (QS Al-Anfaal 74) 

Ketika Mujahidin berada dalam bahaya, kita harus memberi mereka 
perlindungan. Memang benar seringkali tindakan seperti ini sangat berbahaya 
bagi diri kita sendiri dan menuntut konsekuensi yang besar. Tetapi bisa jadi 
semua itu adalah pengorbanan yang dapat kita persembahkan demi 
menggapai ridlo Allah. Taliban adalah satu contoh dewasa ini. Taliban 
memberikan perlindungan dan menyediakan naungan bagi Mujahidin asal 
Arab dan Foreign Mujahideen lain yang berhijrah dan datang ke Atghanistan. 
Tetapi apa konsekuensi yang harus dibayar Taliban? Mereka dituduh 
melindungi "para teroris" sehingga diserang dan akhirnya kehilangan 
kekuasaan dan pemerintahannya. Tetapi itu bukanlah satu bentuk kekalahan. 
Di mata Allah itu adalah kemenangan. Sesungguhnya engkau telah menang, 
meski berapapun harga yang harus engkau bayar dan kehilangan dunia yang 
engkau derita, selama engkau tetap teguh memegang Din (agama) Allah. 
Dan engkau sesungguhnya telah kalah, meski berapapun banyaknya 
keuntungan dunia yang engkau peroleh, jika ternyata dengan itu engkau 
mengorbankan Din dan imanmu. 

Kita harus membuka rumah kita untuk Mujahidin yang berada di antara kita, 
dan kita harus memberi mereka bantuan dan perlindungan yang mereka 
butuhkan. Bukankah hal ini yang telah menyebabkan mengapa kaum Anshar 
di masa Rasulullah SAW dahulu mendapatkan status yang mulia di sisi Allah? 

27. Membangun aqidah Al Walaa' wal Baraa' 

Perihal membangun walaa' (loyalitas) hanya kepada Allah, Rasul-Nya dan 
orang beriman, serta deklarasi permusuhan dan peperangan terhadap orang- 
orang kafir dan tuhan-tuhan mereka seringkali tidak mendapat perhatian yang 
semestinya dalam lingkar-lingkar (halaqah) studi keislaman. 

Allah SWT bertirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik 
bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika 
mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri 
daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami 
ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan 
kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. 
kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan 
memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun 
dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada 



Page19of28 



Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat 
dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali." (QS Al-Mumtahanah 4) 

Allah SWT menggambarkan ciri-ciri orang-orang yang berjuang di jalan-Nya 

sebagai: ". yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang 

bersikap keras terhadap orang-orang katir "(QS Al-Maidah 54) 

Seorang Mujahid harus memiliki pemahaman yang bersih dan jelas tentang 
arti walaa' (loyalitas) terhadap Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mu'min, dan 
di saat yang sama mendeklarasikan permusuhan dan kebencian terhadap 
kaum kafir dan kekuturan. Ibnu Taimiyah menegaskan: "Engkau harus tetap 
lebih mencintai orang mu'min kendati ia mengecewakanmu atau berbuat 
salah kepadamu, dan engkau harus tetap lebih membenci orang katir kendati 
ia berlaku baik kepadamu. " 

Membenci orang kafir dan kekatiran adalah elemen sentral dari aqidah kita. 
Kita harus menyadari bahwa Allah SWT tidak akan pernah melimpahkan kita 
kemenangan selama kita tidak memiliki sikap yang tegas mengenai walaa 
dan baraa, selama kita masih memiliki rasa cinta walaupun sedikit di dalam 
hati kita terhadap musuh Allah dan Rasul-Nya. Kondisi spiritual di mana 
terbangun kokoh loyalitas total kepada Allah dan permusuhan total kepada 
musuh-musuh-Nya adalah salah satu pilar penting yang menjadi dasar 
keputusan Allah antara Rasul-rasul-Nya dengan ummatnya yang kafir. Allah 
SWT tidak akan pernah melimpahkan kemenangan kepada para Nabi dan 
ummatnya hingga mereka menegakkan loyalitas yang sempurna kepada 
Allah dan menegakkan permusuhan yang sempurna kepada kaum kuffar. 

28. Menunaikan tanggung jawab kita terhadap para tawanan muslim 

Rasulullah SAW bersabda: "dan bebaskan para tawanan" (diriwayatkan oleh 
Bukhari). Para ulama kita telah berkata bahwa wajib bagi kaum Muslim untuk 
membebaskan saudaranya yang ditawan musuh, meski itu harus ditebus 
dengan mengorbankan seluruh kekayaan mereka. 

(Khalitah Umar bin Abdul Aziz mengutus AbdurRahman bin Amrah untuk 
pergi menghadap Kaisar Konstantinopel untuk menebus kaum muslimin yang 
ditawan. Umar bin Abdul Aziz berkata: "Tawarkan kepada mereka uang 
tebusan." AbdurRahman bin Amrah bertanya: "Ya Amirul Mu'minin, 
bagaimana jika mereka meminta dua kali lipat?" Umar bin Abdul Aziz berkata: 
"Tebuslah mereka dengan apapun yang diminta, meski itu akan 
menghabiskan seluruh harta kita. Sesungguhnya ketika engkau menebus 
kaum Muslimin yang ditawan, sesungguhnya engkau tengah menebus Islam!" 
Pent) 

Banyak saudara kita Mujahidin yang terlupakan, meringkuk dalam sel-sel 
penjara rahasia di hampir setiap benua di seluruh dunia. Kita harus 
membangkitkan kesadaran Ummah terkait masalah ini. Berdoalah senantiasa 
untuk para asraa (tawanan) dan berjuanglah sekuat tenaga demi 
pembebasan mereka. 

29. www Jihad (Jihad internet) 

Page20of28 



Internet telah menjadi media yang luar biasa dalam menyebarkan seruan 
Jihad dan mempublikasikan berita tentang Mujahidin. Dalam beberapa hal 
Saudara dan Saudari fillah dapat berpartisipasi sebagai "Mujahidin internet" 
dengan melakukan beberapa hal seperti di bawah ini: 

• Merancang forum diskusi internet yang menyediakan media yang bebas 
dan tak disensor seputar intormasi tentang Jihad. 

• Merancang milis (newsgroup) untuk saling berbagi intormasi dengan para 
ikhwah yang memiliki minat yang sama. 

• Posting atau mengirim email mengenai literatur dan berita Jihad. 

• Merancang website yang merangkum topik spesitik tentang Jihad seperti: 
berita seputar Mujahidin, berita tawanan muslim dan literatur Jihad. 

(Sheikh Ayman Ad-Dzawahiri, deputi Sheikh Usama bin Ladin, menyebut 
orang-orang Mujahidin Internet dengan "Junudul Majhulin" - Tentara tak 
dikenal. Pent) 

30. Mendidik dan membesarkan anak-anak kita untuk mencintai Jihad 
dan Mujahidin 

Anak-anak kita harus dibesarkan dalam suasana perjuangan, dan dididik 
untuk mencintai Jihad dan Mujahidin. Cerita yang kita sampaikan, kisah 
sebelum tidur, sedapat mungkin berasal dari sejarah Din ini yang kaya akan 
berbagai teladan Jihad. Mari kita didik dan kita besarkan anak-anak kita 
bersama Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Al-Walid, Abu Ubaidah Al-Jarrah, Saad 
bin Abi Waqqash, Muhammad Al-Fatih, Muhammad bin Al-Qasim, dan 
Sholahuddin Al-Ayyubi. Jadikan figur dan idola mereka adalah tokoh-tokoh 
Mujahidin masa kini. Pada saat yang sama mereka juga harus belajar tentang 
kehinaan Firaun, Qarun dan Abu Jahl. Mereka juga harus diajari untuk 
memahami Firaun-firaun masa kini, Qarun-qarun masa kini, dan Abu Jahl 
masa kini. 

Anak-anak kita harus diajarkan untuk tidak berprinsip "jauhi masalah dan 
jadilah anak yang baik", tetapi seharusnya mereka diajarkan untuk "berlaku 
jujur dan benar meski untuk itu engkau mungkin akan mendapat masalah". 
Ajari anak-anak kita sikap inisiatit dan proaktit daripada bersikap pasit. Al- 
Zubair bin Awwam, salah seorang dari 10 Shahabat yang mendapat kabar 
gembira masuk Surga, selalu membawa anaknya yang bernama Abdullah ke 
medan Jihad bahkan sejak sang anak masih kecil. Karena Abdullah masih 
kecil dan belum mahir bertempur, maka sang ayah membekalinya dengan 
pisau belati dan membiarkannya berkelana di medan perang mencari orang 
kafir yang terluka untuk kemudian mengeksekusinya. Kelak Abdulllah tumbuh 
menjadi salah satu pahlawan legenda dalam sejarah ummat. 

Meski Jihad secara tisik adalah domain kaum lelaki, kaum perempuan juga 
perlu menyelami kehidupan para Mujahid sebagaimana kehidupan para 
suaminya. la harus bersikap suportit (mendorong, mendukung) jika sang 
suami akan pergi berjihad, tabah ketika sang suami syahid, dan shabar ketika 
sang suami tertawan musuh. Para saudari kita Mujahidah harus meneladani 
kaum wanita Anshar di masa Rasulullah SAW dahulu. Mereka menyaksikan 
bagaimana Islam "merenggut" suami mereka, ayah mereka, saudara mereka, 
dan anak-anak mereka, tetapi mereka tetap shabar dan bergembira, antusias 

Page21of28 



menyambut Kaum Muhajirin, membuka rumah mereka untuk perlindungan, 
menghabiskan harta dan uang mereka demi Mujahidin, padahal mereka 
memahami benar konsekuensi dari segala tindakan mereka. 

31. Menghindari hidup mewah 

Syuhada (Insya Allah) Sheikh Abdullah Yusut Azzam RA pernah berkata: 
"Kemewahan adalah musuh Jihad. " Jihad adalah jalan kehidupan yang penuh 
dengan kesulitan dan menuntut pengorbanan besar. Karena itu menghindari 
hidup mewah akan menghilangkan beberapa penghalang antara seseorang 
dengan Jihad. Engkau harus berlatih tidur di lantai, makan makanan 
seadanya yang berbeda dari yang biasa dimasak ibumu atau isterimu, 
menggunakan air dingin untuk wudlu dan ghusl (mandi), dan tidak keberatan 
jika tidak dapat mandi karena ketiadaan air setiap hari. Seorang ikhwah yang 
bercita-cita menjadi mujahid harus mampu mengendalikan keinginannya dan 
mengekang natsunya. la harus melatih dirinya hidup prihatin, ia harus 
mematahkan kebiasaannya hidup nyaman atau bermanja-manja dan santai. 
Hendaknya ia berlatih sedikit tidur dengan membiasakan qiyamullail (shalat 
malam) dan berlatih sedikit makan dengan membiasakan shoum (puasa) 
setidaknya pada hari Senin dan Kamis. Seorang Mujahid sejati harus mampu 
melepaskan dirinya dari segala ikatan dengan dunia demi menggapai ridla 
Allah. 

32. Mempelajari keahlian yang dapat bermantaat bagi Mujahid 

Lingkup Jihad sangat luas dan menuntut banyak keahlian dan keterampilan. 
Para Ikhwah harus mendalami keahlian ini dan memantaatkannya untuk 
melayani Islam. Saya menekankan hendaknya keahlian yang kita dapatkan 
itu kita mantaatkan seoptimal mungkin demi melayani Islam, karena kami 
banyak mendengar kaum muslimin yang mengklaim bahwa alasan mereka 
belajar dan mengejar karir/gelar adalah demi melayani Allah dan Islam tetapi 
setelah mereka mendapatkan gelar dan karirnya mereka kemudian lebih 
melayani kantong mereka dan natsu pribadinya semata. 

(salah satu keterampilan yang saat ini banyak dibutuhkan di dunia Jihad 
contohnya adalah keterampilan elektronika untuk memoditikasi berbagai 
senjata rampasan perang, pengetahuan mekanikal engineering untuk merakit 
senjata, sottware developer, video editing, desain gratis untuk Jihad Internet. 
Pent). 

33. Bergabung dengan Jamaah/Kelompok yang bekerja untuk Jihad 

Amal jama'i (bekerja bersama dalam group/kelompok) adalah kewajiban 
Muslim hari ini, karena menegakkan hukum Allah yang merupakan kewajiban 
kita, tidak dapat dilakukan kecuali bersama jamaah (kelompok). Tetapi 
banyak sekali jamaah yang berkata bahwa mereka bekerja demi Islam, lalu 
jamaah mana yang selayaknya engkau bergabung? 

Karena Jihad adalah amal (perbuatan) paling besar setelah beriman kepada 
Allah, dan ia adalah di antara peribadatan yang paling diperlukan saat ini, 
sekaligus ia juga merupakan ibadah yang paling dilupakan orang, maka 
engkau harus berusaha untuk bergabung dengan jamaah yang menjadikan 



Page22of28 



Jihad sebagai tujuan utamanya. Setiap jamaah yang tidak bekerja untuk Jihad 
paling tidak dikatakan sebagai jamaah yang tidak sempurna. Hal ini 
dikarenakan semenjak Jihad ditetapkan setelah hijrahnya Nabi SAW ke 
Madinah, jamaah di mana para Shahabat Radliallahu'anhum bergabung di 
dalamnya selalu menjadikan Jihad sebagai fokus utamanya. Inilah kebenaran 
dan kenyataan di masa Rasulullah SAW, Abu Bakr RA, Umar RA, Utsman 
RA, Ali RA, dan Mu'awiyah RA. Sejarah mencatat ada 19 sembilan belas 
pertempuran yang diikuti langsung Rasulullah SAW dan 55 ekspedisi militer 
yang Beliau perintahkan. Kesemuanya berlangsung dalam rentang waktu 
sepuluh tahun! Hal yang sama kita jumpai di masa Khulata Ar-Rasyidin 
setelah Nabi SAW. 

34. Persiapan spiritual 

Kekalahan yang dialami Ummat Muslim bukanlah disebabkan karena musuh 
lebih unggul dan hebat tetapi karena kelemahan Ummat Muslim sendiri. Allah 
SWT bertirman: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah 
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaatkan sebagian 
besar (dari kesalahan-kesalahanmu). " (QS Asy-Syura 30) 

Karena itu persiapan spiritual diperlukan untuk menunaikan berbagai 
kewajiban agama. Ketika Rasulullah akan memanggul beban yang berat, 
maka Allah memerintahkannya untuk mempersiapkan diri secara spiritual: 
"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di 
malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), seperduanya atau kurangilah dari 
seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu 
dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu 
Perkataan yang berat." (QS Al-Muzammil 1-5). 

Karena Jihad adalah salah satu perintah Allah yang paling berat, maka kita 
membutuhkan banyak persiapan ruhani. 

35. Menuntun Ummat kepada Ulama yang lurus dan jujur 

Kita harus menyadari bahwa saat ini kita hidup pada masa di mana figur 
seorang ulama dapat "dibentuk/dipesan". Musuh Islam melalui kendali atas 
media massa dan rejim pemerintahan muslim dapat mempromosikan figur- 
figur tertentu yang mereka pertimbangkan akan dapat merepresentasikan 
Islam yang lunak dan moderat, untuk kemudian mereka blow-up melalui 
media massa yang mereka kontrol termasuk televisi sehingga menjadikan 
figur-figur ini bak selebriti. Seseorang yang ditunjuk menjadi Grand Mufti 
(mufti besar) di beberapa negeri muslim akan dapat "menyulap" figur-figur 
ulama ini dengan cepat menjadi ulama kaliber dunia. Rekayasa media, mulai 
dari program televisi, media cetak dll akan menjadikan figur-figur "ulama" ini 
menjadi terkenal dan populer. Sementara di sisi lain, para Ulama Haqq yaitu 
ulama yang lurus dan jujur didesak, dibungkam, dikejar-kejar, ditangkap dan 
dipenjara bahkan dibunuh. Media akan mengabaikan mereka atau 
menampilkan tigurnya sebagai figur yang jahat sehingga masyarakat tidak 
memperhatikan atau malah membencinya. Tetapi dengan semua perlakuan 
seperti itu, apakah para Ulama Haqq itu ilmunya lebih rendah dibanding para 
"ulama" bentukan pemerintah tadi? Tidak, pada kenyataannya para Ulama 
Haqq yang lurus dan jujur yang selalu menegaskan kebenaran ternyata lebih 



Page23of28 



mendalam ilmunya dan lebih kokoh pemahamannya, karena mereka 
memahami kebenaran dan bertindak semata demi kebenaran. 

Karena itu menjadi tanggung jawab kita untuk menuntun ummat agar 
mengikuti Ulama Haqq ini. 

36. Mempersiapkan diri untuk berhijrah 

Muslim yang hidup di tengah komunitas non muslim telah menempatkan diri 
mereka di bawah belas kasihan orang-orang katir. Ketika daulah Islam 
(negara Islam/lslamic State) ditegakkan di Madinah, Rasulullah SAW 
mendeklarasikan haram hukumnya hidup di tengah orang-orang kafir. Maka 
setiap Muslim harus mempersiapkan dirinya untuk berhijrah ke negeri Muslim 
jika ada kesempatan. Mempersiapkan diri untuk berhijrah bukan hanya 
ditujukan kepada mereka yang tinggal di negeri katir, tetapi juga berlaku 
kepada seluruh Muslim karena kita sering mendapati Jihad membutuhkan 
hijrah. Itulah mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Hijrah tidak akan 
berhenti selama Jihad melawan musuh terus berkobar." (Diriwayatkan oleh 
Ahmad). 

(Di hadits lain Rasulullah SAW bersabda: "Jihad akan terus berlangsung 
sampai hari Oiyamat. " Pent) 

37. Menyampaikan nasehat kepada Mujahidin 

Mujahidin juga dapat berbuat keliru dan memiliki keterbatasan, sehingga 
mereka juga memerlukan nasehat. Engkau dapat menyampaikan nasehat 
secara langsung kepada mereka, atau melalui pos (jika mungkin), atau 
mempostingnya melalui intemet. Apapun metode yang engkau lakukan, 
pastikan bahwa nasehat yang engkau berikan semata demi menggapai ridla 
Allah, dan bukan semata mengkritik dan menyalahkan mereka. 

Isi nasehat bukan hanya menunjukkan kelemahan atau kekeliruan mereka, 
tetapi juga dapat berupa usul atas ide-ide baru atau memperingati mereka 
akan adanya potensi bahaya. 

38. Mempelajari hadits tentang Fitan 

Hadits tentang titan (bentuk plural dari titnah) adalah serangkaian hadits yang 
disampaikan Rasulullah SAW yang berbicara tentang berbagai peristiwa yang 
akan terjadi menimpa Ummatnya setelah Beliau SAW watat. Fitnah berarti 
cobaan, mushibah. Mempelajari hadits tentang titan sangat penting dengan 
alasan sebagai berikut: 

• Ada banyak sekali hadits yang berbicara tentang titan, sehingga ini 
mengindikasikan betapa pentingnya untuk mengetahui dan memahami 
masalah titan ini. 

• Umumnya khutbah dan nasehat yang disampaikan Rasululllah SAW 
kepada para Shahabatnya bersitat ringkas dan padat, tidak panjang dan 
bertele-tele. Tetapi diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah 
menyampaikan khutbah atau nasehat kepada sekelompok Shahabat 
terus-menerus bersambung tanpa henti mulai dari saat selesai shalat 
shubuh hingga isya, berhenti kecuali hanya untuk shalat saja. Dan topik 
apa yang dibicarakan? Fitnah dan cobaan yang akan melanda Ummat 



Page24of28 



Islam semenjak watatnya Beliau hingga hari Qiyamat nanti. Jika topik 
tentang fitan ini tidak penting, lalu mengapa Rasulullah SAW merasa 
perlu untuk menyampaikannya sehari penuh non-stop? 

• Para Shahabat sangat antusias untuk mengetahui berbagai fitan yang 
akan melanda sehingga mereka kerap kali bertanya kepada Rasulullah 
SAW bagaimana mereka dapat melindungi diri dari fitan itu. 

Ada banyak mantaat bagi Mujahidin dalam mempelajari dan mengajarkan 
hadits tentang fitan: 

• Mantaat yang utama adalah mempelajari bagaimana melindungi diri dan 
menghindari dari jatuh terjerumus ke dalam titnah. 

• Ummat Islam dapat memperoleh pemahaman menyeluruh tentang 
kemana arah yang harus ditempuh ummat dan bagaimana mencapai 
kemenangan. 

• Jihad memainkan peran utama dalam kancah sejarah Islam. Mempelajari 
hadits tentang fitan akan meletakkan Jihad dalam perspektit yang sesuai. 
Dua pemimpin ummat ini pada akhir zaman adalah para Rijalul Jihad, 
lelaki Jihad (Mujahidin) yaitu Al-Mahdi dan Isa putra Maryam 
'Alaihissalam. 

• Berbagai hadits tentang fitan menjelaskan secara gamblang kepada 
ummat ini bahwa kebangkitan ummat menuju kemenangan sejati tidak 
akan dapat diraih melalui jalan pemilihan (demokrasi) atau dakwah 
dengan jalan damai, tetapi melalui bertempur dan berperang fi Sabilillah. 

• Mempelajari hadits tentang fitan dan melihat peran yang dimainkan Jihad 
akan membentuk visi yang jelas kepada setiap Muslim dan mendorong 
mereka untuk bergabung dalam barisan Mujahidin. 

39. Menyingkap kebusukan firaun dan para tukang sihir pendukungnya 

Berbagai rejim yang memerintah negara mayoritas Muslim saat ini 
memainkan peran sebagai Firaun terhadap Musa, dan para ulama thowaghit 
serta segenap pendukung yang mengelilingi pemerintahan mereka 
memainkan peran seperti para tukang sihir Firaun yang bertugas menipu 
masyarakat. Segenap rejim thowaghit dan para pendukungnya adalah lingkar 
ketiga dari poros musuh Islam bersama penyembah salib dan zionis, kaum 
musyrikin dan atheis. 

40. Nasyid 

Muslim perlu senantiasa diinspirasi untuk menunaikan Jihad. Pada masa 
Rasulullah SAW Beliau memiliki sejumlah penyair yang akan menggubah 
syair untuk memompa semangat kaum Muslimin dan menjatuhkan moral 
orang-orang kafir. Dewasa ini peran itu dapat dimainkan oleh nasyid. Nasyid 
yang baik dapat menyebar begitu luas dan diterima banyak kalangan, satu 
cara yang belum tentu dapat dicapai melalui kuliah/ceramah (Islamic lectures) 
atau buku. Nasyid khususnya dapat menginspirasi para pemuda, dan para 
pemuda adalah pondasi Jihad di setiap masa dan jaman. Nasyid dapat 
berperan sebagai elemen penting untuk membangun tradisi dan budaya 
Jihad, "Jihad culture". Sangat banyak nasyid dalam bahasa arab, tetapi masih 
sedikit yang digubah ke dalam bahasa lain seperti bahasa Indonesia dan 
Inggris. Maka sangat penting bagi para komposer dan seniman untuk 



Page25of28 



mengambil peran dan tanggung jawab menggubah nasyid. Nasyid dapat 
mengangkat berbagai topik Jihad seperti: kesyahidan, Jihad adalah solusi, 
mendukung Mujahidin, mendukung para pimpinan Jihad saat ini, kondisi dan 
situasi ummat, tanggung jawab para pemuda, tutuhat Islam (victory of Islam), 
dan perjuangan mempertahankan agama (Din). Nasyid harus memtokuskan 
temanya pada keadilan daripada tokus pada perdamaian, dan tokus pada 
kekuatan daripada tokus pada kelemah lembutan. Dan nasyid haruslah tegas, 
kuat dan membangkitkan semangat, dan tidak penuh penyesalan (minta 
ampun) dan teminin (cinta kasih). 

41. Boikot perekonomian musuh 

Ketika Tsumamah bin Athaal masuk Islam, ia memboikot Quraisy dengan 
mencegat setiap iring-iringan kendaraan pengangkut gandum menuju Mekkah 
yang melewati daerah kekuasaannya. Hari ini Muslim harus memboikot 
perekonomian musuh dengan berusaha tidak mengkonsumsi produk mereka 
dan mengembangkan produk sendiri. 

42. Mempelajari Bahasa Arab 

Bahasa Arab adalah bahasa internasional Jihad. Hampir semua literatur Jihad 
tersedia dalam bahasa Arab dan para penerbit tidak mau mengambil resiko 
untuk menerjemahkannya. Sementara saat ini satu-satunya pihak yang 
bersedia mengeluarkan uang dan mau menerjemahkan literatur Jihad adalah 
dinas intelijen barat... dan sayangnya, mereka tentu tidak mau 
menyebarkannya kepadamu. Bahasa Arab juga menjadi bahasa komunikasi 
sehari-hari yang mendominasi yang dipakai oleh para Mujahidin dan Foreign 
Mujahideen di hampir semua medan Jihad. Jadi bagi engkau yang ingin 
berangkat berjihad, tidak ada pilihan lain kecuali engkau harus berusaha 
mempelajarinya. Sangat penting bagi para Mujahidin untuk saling 
berkomunikasi dengan bahasa yang standar dan Bahasa Arab adalah pilihan 
yang paling sesuai. 

43. Menerjemahkan literatur Jihad ke dalam bahasa lain 

Sebagaimana saya katakan sebelumnya, hampir seluruh literatur Jihad ditulis 
dalam Bahasa Arab. Saudara/Saudari yang mampu berbicara dalam bahasa 
asing selain Bahasa Arab harus menerjemahkan berbagai literatur berharga 
ini ke dalam bahasa mereka. 

Setiap gerakan untuk perubahan dimulai dengan perubahan intelektual. 
Menurut riwayat, Sholahuddin Al-Ayyubi memulai pergerakan Jihad 
membebaskan Tanah Islam dengan pertama-tama menggalakkan berbagai 
tulisan tentang Jihad. Kami menyaksikan hal seperti ini terjadi saat ini. 
Gelombang kebangkitan Jihad harus disebarkan ke seluruh Muslim dalam 
berbagai bahasa. 

44. Mengajarkan ummat tentang karakteristik At-Thaifah Al-Manshurah 

Rasulullah SAW bersabda: "Akan ada senantiasa satu thaitah 
(kelompok/group) dari ummatku yang terus berperang dan bertempur, mereka 
mematuhi perintah Allah SWT, mereka mengalahkan musuh mereka dan 
mereka tidak akan dapat tertimpa bahaya dari orang-orang yang melawan 



Page26of28 



mereka hingga tibanya Hari Oiyamat." (Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dan 
Beliau menyatakan hadits ini shahih) 

Ini adalah kelompok yang akan senantiasa dimenangkan oleh Allah SWT, At- 
Thaitah Al-Manshurah (The Victorious Group), dan masing-masing dari kita 
harus berjuang untuk dapat bergabung menyertainya. Engkau dapat 
mengenali mereka dari beberapa ciri khas yang senantiasa ada pada mereka: 

• Mereka adalah "At-Thaifah, Al-Jamaah, Group," sekelompok orang 
yang saling beramal jama'i, bekerja dalam kelompok, saling bekerja sama 
demi kebaikan. 

• "Berperang, Fighting," adalah ciri khas yang menjadi kunci dari thaitah 
ini. Ciri khas bahwa mereka adalah kelompok yang berperang telah 
membedakan mereka dari berbagai kelompok dan jamaah Islam yang 
ada saat ini. 

• "Tidak akan ditimpa bahaya dari orang yang melawan/menyelisihi 
mereka," hal ini terjadi karena mereka memiliki Allah di pihak mereka. 
Saya pernah mendengar sebuah nasyid berbahasa Inggris (meskipun 
yang menyanyikannya seorang laki-laki tetapi suaranya begitu teminin 
sehingga engkau merasa muak mendengarnya), nasyid itu berisi syair 
yang berbunyi dalam narasi yang berbeda: "mereka tidak akan ditimpa 
bahaya dari orang yang mengkhianati mereka", artinya thaitah ini akan 
menghadapi pengkhianatan dari mayoritas Muslim lainnya, tetapi itu 
semua tidak akan membahayakan mereka. 

• "Mereka adalah kelompok yang menang," menang di sini tidak harus 
selalu berarti menang atas musuh mereka di dunia. Menang artinya 
mereka berhasil menjaga dan memelihara Din ini dan berjuang 
membelanya hingga mereka mati menemui Allah. Ini artinya mereka tidak 
pernah menyerah, tidak pernah lemah, tidak pernah berkompromi, dan 
tidak ragu dalam meninggikan panji-panji Islam. 

Mengajarkan orang lain tentang At-Thaifah Al-Manshurah akan menolong 
orang itu untuk menemukan kebenaran. Setiap Muslim yang memiliki 
pengetahuan dasar tentang Islam, memiliki akal sehat, umumnya bersedia 
mengikuti (bertaqlid) kelompok, jamaah, harakah, atau syuyukh. Dan berpikir 
sedikit obyektit akan dengan mudah menuntun mereka untuk menemukan 
jamaah yang mana yang memiliki karakteristik seperti disebutkan di atas. 
Karena karakteristik At-Thaifah Al-Manshurah ini melekat pada jamaah itu 
seperti sarung tangan yang melekat pada tangan. 

Demikianlah Saudara dan Saudari fillah, ini adalah serangkaian nasehat 
tentang bagaimana engkau dapat mendukung Jihad saat ini. Seluruh 
rangkaian nasehat ini tidak akan memiliki arti apa-apa kecuali jika 
dilaksanakan. Maka berbuatlah, lakukanlah apa yang dapat engkau lakukan, 
dan ajaklah orang lain untuk ikut melakukannya. 

Sebagai penutup, kita berdoa kepada Allah SWT agar Dia menunjukkan kita 
jalan yang lurus dan menjadikan kita orang yang sudi mendengarkan nasehat 
dan mengikuti kebaikan. 

Ya Allah! Jadikan kami dapat bergabung menyertai Mujahidin dan 
limpahkanlah kemenangan kepada kami atas musuh-musuh kami. Amin 

Page27of28 



Courtesy: Ansar Mujahidin 



Page28of28